
Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia (Poltekkes BSI) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan pendidikan vokasi kesehatan melalui rencana pembukaan Program Studi Terapi Wicara. Upaya ini mendapat pendampingan langsung dari LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta, sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan mutu dan relevansi pendidikan tinggi sesuai kebutuhan nasional.
Ketua Yayasan Poltekkes BSI menyampaikan bahwa pihaknya terus memberikan dorongan, semangat, dan kepastian dalam pemenuhan standar kualitas akademik yang telah ditetapkan pemerintah. Pembukaan Prodi Terapi Wicara dipandang sangat strategis mengingat tingginya kebutuhan tenaga terapis wicara di Indonesia.
Dalam kegiatan pendampingan ini, Ketua Kolegium Terapi Wicara, Hikmatun Sa’diah, A.Md.TW., M.Pd., memaparkan bahwa pada tahun 2025 Indonesia membutuhkan sekitar 5.800 terapis wicara untuk memenuhi layanan kesehatan yang berkualitas. Di wilayah Yogyakarta sendiri, kebutuhan tenaga terapis wicara juga cukup besar, yaitu:
-
Yogyakarta: 94 terapis wicara
-
Gunungkidul: 16 terapis wicara
-
Sleman: 16 terapis wicara
Kolegium Terapi Wicara menyambut baik rencana pembukaan prodi ini dan siap mengawal penyusunan kurikulum serta capaian pembelajaran agar sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Terapi Wicara merupakan bagian dari ilmu kesehatan terapan, sehingga pengembangan prodi membutuhkan instrumen akademik yang terukur dan sesuai regulasi.
LLDIKTI Wilayah V juga memberikan arahan terkait nomenklatur dalam pendidikan vokasi. Untuk jenjang diploma, penyebutan akan menyesuaikan dengan aturan baru, yaitu menjadi Program Sarjana Terapan. Selain itu, seluruh dokumen usulan pembukaan prodi wajib diunggah melalui sistem resmi yang telah ditentukan, sehingga proses evaluasi dapat berjalan transparan dan akuntabel.
Dengan adanya pendampingan ini, Poltekkes BSI semakin optimis bahwa pembukaan Prodi Terapi Wicara akan berjalan lancar serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di Indonesia. Program ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperluas akses layanan terapi wicara dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan terapan.